Search

Rinda Reen Hadiana

Write whatever I want to, say whatever feels right, and needs to be said

Category

Personal Life

How do you define success? How about me?

2017, let’s begin. U yeeaahh 😀

Actually, it confused me how should I start to write here, since it will be more professional things to say (I guess). Ditulisan kali ini, aku akan terangkan apa yang kulakukan setelah dilamar (Tapi gak ada cincin yang melingkar dijari manis sih, belum -__-“). Dont know what Im sayin’? Kindly check my first stories “Leaving for good”, the second one “Welcome to my new life”, please check them out, its free though (LOL). Anw I havent decided yet, will it become trilogy or tetralogy, even pentalogy, hexology, bla blah sih, because my life still goes on and on.

Well, I got an inspiration from my tweet awhile ago about #ChiefSharing with @MayaArvini in YOT office, further you can check here. Broadly speaking sih, she explained about the keys to career success and how do we define success using research accenture by herself (Dont worry, I got her permission to post this on my blog). Then, I’ll try to connect my stories with it ya. She define career success in 7 ways of pyramid, so lets get started:

Continue reading “How do you define success? How about me?”

Me, Coffee, and Starbucks

Me and Coffee

Aku terjerumus didunia perkopian dimulai dari jaman perkuliahan, kira-kira semester 2/3 gitulah. Pada saat itu aku masuk di Kelas Internasional beberapa semester (bukan karena pinter atau songong, tapi ini tuntutan kuliah di Jurusan Hubungan Internasional), otomatis banyak bule dari berbagai negara kan. Pada suatu waktu, kopi menjadi topik pembicaraan. Hal yang paling aku ingat adalah, ada seorang mahasiswa dari Eropa bilang “Aku suka banget kopi, Negara ku juga suka banget kopi. Kopi terbesar yang kami terima dan terenak adalah dari Indonesia. Aku jadi kasihan dengan orang-orang Indonesia, kalian tidak menemukan dan mempunyai hal-hal enak lagi untuk dinikmati, karena kalian menikmatinya setiap hari yaitu kopi kalian sendiri.” (pokoknya intinya gitu lah ya, entah Inggrisin-nya apaan :D).

Mikirlah diriku ini ya kan, Indonesia itu produsen kopi terbesar setelah Brasil dan Vietnam, kaya akan berbagai jenis kopi dan terkenal dengan berbagai macam rasa (Googling aja untuk validasi). Nah orang pribumi kita nih, tanam dari nol hingga diolah dan dijual bahkan diimport. Boro-boro tahu pengetahan tentang cara menikmati kopi yang baik dan benar, tahunya mah tinggal dipanen lalu dijual, atau dipanen, dikeringin, digongso sampe gosong, digerus, seduh air panas, minum, kelar urusan. Gak ada tuh ceritanya, kadar keringnya berapa persen, harus digongso berapa lama, air panasnya harus berapa derajat, dan banyak unsur-unsur lainnya. Hidup udah susah, kok urusan minum kopi aja harus ribet juga. Ya gak? Dimulai dari situ, aku mulai tertarik dan teredukasi tentang kopi. Akhirnya mulailah ngopi-ngopi, kopi sachetan jadi pilihan awal, yang banyak banget dijual di toko-toko dan murah meriah. Segala merk sudah pernah ku coba, dan yang paling favorit adalah kopi merek Hari yang Baik (you know what I mean lah :D).

Seperti yang ku jelaskan diatas, aku suka banget berteman dan bertukar cerita yang manfaat dengan banyak orang (bukan chatty, ngegosip gak jelas). Karena itulah, aku suka banget nongkrong dan pilihannya adalah Café dan warung kopi (I mean, the real coffee from the bean yaa). Pada waktu itu (Tahun 2012/2013) aku yang masih suka kopi sachet Hari yang Baik, yang levelnya masih cemen banget lah. Akhirnya punya kawan yang suka ngopi juga, yang ahli tentang kopi, barista sampai yang punya Café/Warung Kopi. Disini wawasan ku tentang kopi semakin luas, mulai belajar minum kopi tanpa gula, semakin ngerti olahan-olahan kopi, mulai diajari pakai alat-alat kopi, dan segala tetek-bengek mengenai perkopian. Mulai agak bangga nih ceritanya, karena naik level dari kelas cemen ke kelas agak gak cemen :D. Bisa minum kopi tanpa gula, belajar melatih lidah untuk tahu rasa “biji kopi”, dada gak lagi berdebar-debar, ngantuk? Yaa tinggal merem tidur.

Saking menggelitiknya dan penasarannya diriku, akhirnya aku bertanya ke salah satu orang kece di dunia kopi yang ku kenal (gak hanya di Jogja kayaknya, di Indonesia juga deh), dia owner coffee shop juga yang ada dibeberapa kota di Indonesia, dan salah satu tempat ngopi favorit ku juga pada saat di Jogja. Tanyalah diriku “Mister mister, kopi sachet yang terenak menurut mu merk apa?”, doi menjawab “Gak ada (dengan mimik muka yang super datar)”. Kembali bertanya lah diriku “Mister mister, kalau ada pilihan minum kopi sachetan, merknya apa deh?”, doi jawab “Hmm Gak ada juga”. Dalam hati, “nih orang songong amat sih!”. Nanya lagi nih “Yaudah, kopi sachetan yang ada di tipi-tipi dan di toko-toko itu, mana diantaranya yang punya kadar kopi terbanyak?”, doi jawab “Gak ada (sambil nyengir)”. Dalam hati lagi nih, “eet daaah, songongnya tingkat dewa!”. Nanya lagi, “Ya satu aja lah, dari ratusan merk masak ya gak ada? Satu aja, yang paling ter-lah, terenak, terbanyak, ter ter ter-OK. Apaan? (sambil memelas gitu)”, lagi-lagi dia jawab “Gak ada Sist (pasang muka malaikat gitu)”. Rasanya aku pengen nabok tuh orang deh, asli!

Dijelaskanlah olehnya, sehingga aku tak kunjung nabok dia sampai detik ini. Hahaha. Singkat cerita, sachet = instan, hal yang serba instan pada umumnya gak baik buat kita. Apalagi ini masuk dan dicerna oleh tubuh kita. Kopi sachet, banyak banget mengandung bahan kimia, bahan pengawet, dan zat-zat olahan lainnya. Lihat aja komposisinya yang tertulis, bahasa ilmiah yang orang awam pasti gak ngerti. Dibuat untuk bertahan lama dan diseduh. Padahal usia biji kopi tidak sepanjang kopi sachetan. Manfaat kopi sendiri sangat banyak dan baik untuk tubuh kita secara alami, jika sudah bertemu dengan bahan-bahan kimia, buat apa?

Kedua, jika minum kopi sachet, gak ada seninya. Rebus air panas, mendidih tuang, woila jadi deh kopi seduh. Perkara efisiensi waktu yang cepat dan murah meriah juga, memang benar adanya, tapi that’s not work for coffee lovers. Ketiga, tahu gak kenapa minum kopi dada berdebar padahal kopi sachet nih? Karena dalam satu sachet kopi, kadar gulanya sangat tinggi, iya kalau gula tebu asli, ini gula pemanis buatan. Jika masuk dan diserap, tubuh kita akan bereaksi ditandai dengan jantung yang berdebar-debar, tekanan darah naik, kecanduan, dll. Intinya adalah gak baik untuk tubuh, apalagi dikonsumsi dengan frekuensi yang sering. Sebenarnya orang minum kopi sachetan langsung merasa segar-bugar, gak ngantuk, bla bla bla, itu sebenarnya hanya efek dari sugar rush symptoms (more info, please googling by yourself).

Keempat, yang paling penting nih. Kopi sachetan tidaklah mengandung kopi 100% tetapi perasa/perisa kopi buatan yang rasanya mirip kopi. Aku nyebutnya sih kopi-kopian, karena hanya minum air yang dikasih rasa kopi. Kelima, yang tak kalah pentingnya juga. Jika kita minum kopi sachetan, kita gak menghargai jerih payah petani kopi (gak hanya di Indonesia, tapi di seluruh bagian dunia). Istilah “memperkaya si kaya, dan memiskinkan si miskin” terjadi disini. Get it, right?

Dari keterangan-keterangan itu, rasanya aku kayak ditabokin berkali-kali. Aku nih seorang analyst dan researcher, gak mudah untuk mengiyakan begitu saja tanpa aku mencari tahu kebenaran dengan usaha sendiri kan. Validasilah diriku, dari gooling sampe mual, nanya sana-sini, yaa akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mengonsumsi kopi sachetan. Alasan terkuat ku adalah aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh, baik dibodohi atau membodohi. You know what I mean, right?

Di tahun 2014 adalah titik awal aku mulai mengonsumsi kopi dengan benar, kopi yang berasal dari olahan biji kopi asli dan alami.

Me and Starbucks

Aku tipe orang yang sangat-sangat loyal jika sudah suka atau nyaman dengan sesuatu hal (kok sama kamu, enggak ya? Halah!). Contoh: Kalau udah nemu dan suka jenis makanan tertentu disuatu tempat yang baru sekali didatangi, datang yang kedua ketiga seterusnya, sudah dapat dipastikan aku akan pesan makanan yang sama itu-itu aja tanpa tertarik coba makanan yang lain. Kalau udah nemu tempat nongkrong yang “klik” banget, cozy, comfortable, efordable, bla bla bla, for sure I’ll put all my loyaltiness on it and I’ll never look for another place.

So I think, Starbucks is one of my favorite places, the coziest place to relax and spent my own quality time or with friends (or you. Halah!).

Why?

Dari berbagai macam jenis racikan kopi, salah satu favorit ku adalah pakai alat siphon untuk hot coffee (googling aja ya apa itu siphon coffee) dan Ice Blend Coffee (Kek itu cappucino, latte, black, blablabla) pokoknya olahan kopi pakai es aku suka banget. Nah pilihan menu kopi di stbucks untuk ice coffee or ice blended coffee-nya, menurutku paling juarak! (iya pakai K).

“Mocca Frappe, double shot, less sweet, no whipped cream, grande”, adalah kalimat tersering yang aku ucapkan jika sampai di counter stbucks. Artinya 2 sloki kopi esspreso, gak manis dan tanpa krim kocok, diblender dengan coklat dan es, ukuran sedang = surga.

“Hot cappucino/latte, soy milk, plain, grande”, adalah nomor dua menu favorite untuk kopi panas. Artinya Capuccino/latte panas, pakai susu kedelai, tanpa gula (aka tawar), ukuran sedang.

Selain kopinya yang juarak, tempatnya juga sangat berpengaruh. Tempatnya bersih, dekorasinya keren, duduknya nyaman (ada sofanya), wifi kenceng, full music, full AC, harum semerbak kopi. Walau hanya mau me time dengarkan musik atau baca buku, bahkan kerja juga asyik pakai banget, mau meet up dengan temen/client, juga gak kalah juaranya.

Sampai di penghujung tahun 2016 ini, aku sudah mendatangi kira-kira 9 gerai Stbucks di 3 kota (1 Semarang, 3 Jogja, 5 Jakarta). Setiap Gerai Stbucks pasti sudah punya SOP sendiri, tapi jika disuruh milih 8 gerai yang pernah aku datangi, aku milih Stbucks Kemang. Bukan hanya karena dekat kantor/tempat tinggal di Jakarta, tapi juga suasananya yang berbeda dari gerai lainnya. Stbucks Kemang terdiri dari 2 lantai, indoor dan outdoor (smooking dan non-smooking). Pojokan, sofa berlengan, colokan, gak terlalu dingin, non-smooking area, Indoor lantai dua, selalu jadi posisi strategis untuk ku. 13 jam adalah rekor terlama aku berdiam diri disini, kerja! Wohohohoh 😀

Soal harga, memang agak pricey sih. But for someone like me, who like coffee bean, who like cozy place, who fall in love (lhooh??), so I have my own coffee monthly budget donk. (So its not everyday, come on?!)

“Life taste sweet and bitter like coffee. Because life begin after coffee.”

Image result for coffee quotes

I think thats all the story about me, coffee, and Starbucks. Thanks.

– Reen who love coffee

Do I deserve this? But I thankful

Remember that “assuming is the biggest enemy” lhoo 😊

(Warrior by Demi Lovato as a backsound)

Continue reading “Do I deserve this? But I thankful”

Goodbye my lover. Goodbye my friend.

“Goodbye my lover. Goodbye my friend.” I quote from @jamesblunt‘s song.

13437187_1613611752300610_1534904070_n

There is still a chance, although a very small chance that I can fix it.
But something you lose, you just cant get back. It could be some pictures, things, memories, moments, or maybe a person.

Something you lose, you cant never get back anymore. – Me

Continue reading “Goodbye my lover. Goodbye my friend.”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: