Search

Rinda Reen Hadiana

Write whatever I want to, say whatever feels right, and needs to be said

Category

My Poems

Ah yang benar saja…

Memang tak dapat terlihat oleh mata…

Terikat lebih kuat dari yang berkuasa…

Hanya aliran dalam nadi yang berbicara…

Jangan harap ada ungkapan fakta…

Takkan lagi mengotorinya dengan dosa…

Hanya akan ada doa…

Tenang, ini hanya perkara rasa…

Kan ku bawa sampai ku tak lagi ada…

Apa?

Kenapa?

Mengapa?

Bagaimana?

Tanyalah hingga berbusa…

Hasilnya akan tetap sama…

Diam hingga menutup mata…
– Reen

11 pm

Pergolakan Batin

Ternyata susunan hati masih tersisa, walau tak ada lagi rasa.

Dengan ragu mengakuinya, walau terkejut dibuatnya.

Tusukan tajam masih mendera, disudut diantara remukan yang membara.

Pergolakan dan penolakan takdir, rasanya masih sama, getir.

Tak sesakit di lampau, hanya soal kenyamanan yang jadi kacau balau.

Tawa pedih muncul diakhir, dan lagi-lagi kembali tersingkir.
– Reen

11. 36 pm

Tersayat

“Kau dilukai?” – Ia bertanya.

Melayangkan tuduhan berupa tanya, cemas.

“Teramat sangat!” – Jawab ku.

Menuangkan kebenaran berupa kepedihan, lemas.

– Reen

01.00 am

Anu ku sayu

Segala warna berganti abu-abu.

Pertanda badai dilangit biru.

Air menggenang dipelupuk pilu.

Bagai riak bening nan kelabu.


Tetap menjaga banyak jantung tuk berpacu.

Agar detaknya berirama tuk bersatu.

Bukan karena malu ataupun ragu.

Hanya jadi penyelamat yang belagu.


Nyanyian bisu bertalu-talu.

Rentetan tanya mengganggu.

Tahu takkan cepat berlalu.

Bibir kelu tak lagi mampu.

Jawaban dikira melucu.


Tak gentar bujuk dan rayu.

Kukuh melembutkan muka-muka yang layu.

Terpatri erat dijiwa yang haru.

Tak ada sesal dan tangis tersedu.

Begitu juga rindu.


Walau ikatan tak kasat mata membelenggu.

Situ bukanlah penentu.

Biarlah hanya aku yang tahu.

Tuk mulai hidup yang baru.


– Reen

3.17 am
*Karena satu anu berjuta makna.

Melawan Semu

Duel antara komedi dan melankoli.

Drama awet dengan sulut api.

Tangisnya pecah karena cedera.

Tawa merekah karena gila.

Ketika hiburan jadi kuburan.

Pojok suram bermuram durja.

Tarikan udara berkobar diparu,

tercekit abu kelabu.

Sambil terduduk dihamparan duri.

Lutut erat dikenyalnya dada.

Dilingkari dengan jeruji tajam.

Melindungi yang bernyawa.

Kilatan mata padam nan menyilaukan.

Nanar berkelana ke negeri iba.

Tertunduk diantara gua yang membuat dosa.

Ketika mati bukan lagi tujuan.

Nyawa lain yang jadi taruhan.

“Akhiri delusi ini, segera!”,

Ia menyamun kedalam diri.

Berharap mimpi buruk jadi doa.

Tak lama ia bangun dari lamunan.

Sadar dengan luka nganga yang membara.

Suara bergaung lantang menantang,


“Ini nyata!”.





– Reen

10.59 pm

Tersara Bara

Sel-sel otak melebihi baja.

Terlalu kuat tuk dipantik.


Tiap tempaan membran, tersulut kenang.

Pada kecepatan cahaya.


Kebanyakan yang harus padam.

Namun nyatanya terang benderang.


Bukanlah percikan yang harus menyala.

Biarlah sengaja tetap mati suri.


Kilatannya mencabik-cabik diri.

Bukan lagi jadi keping, namun butir.
Siksa duniawi terasa begitu hidup.

Walau hanya dengan penggalan memori.



– Reen

11.48 pm

Image by Google

Dua

Hamba bertumbuh jadi dua.

Membawa sebuah nyawa.

Memupuk hidup yang nyata.


Walau bercak kaki hamba resah.

Mantap bergemerisik takkan goyah.

Tegak nan tegap melangkah.

 

Tatapan mata penuh dosa.

Menutup dua lubang telinga.

Tak hirau mulut-mulut berbicara.

 

Luruhkan semua harap dan pupuskan lara.

Singkirkan gundah gulana.

Bangkitkan senyum dan tawa.

 

Hamba satu yang jadi dua.

Bersua dalam suka dan cita.

Menyambut riang gembira.


Hamba sudah menjadi dua.

Hingga nanti saatnya tiba.

Semoga semua akan bahagia.

 

 

– Reen

11.47 pm

Rind… A atau U

Rinda…

Rindu…


Tak jauh beda.

Tipis diakhir.

Kuat penuh arti.


Sebuah nama berbisik.

Desahan merdu.

Lirih memekakkan.


Terhenti dikerongkongan.

Membakar didada.

Siksa.


Ya, keduanya sama.

Berucap kenangan.

Tak bersuara & tak bersua.


– Reen

Me, Rinda. Blue Mosque. Turkey.

​Hate vs Love

I hate you, yet I love you


The powerful and polarizing words.

Intense emotions of mind.

Becoming a purpose,

An agony and an ecstasy.


A single soul destroyed.

Suffer physically, and mental slavery.

Treathen silently, torturing eternally.


Plaaak!!


Bring attention to the moment.

Open up the choice of possibilities.

Freedom of acceptances.


Shift the boundaries.

Terminate the chains.

Slack off the affections.


Forgiveness and compassion on the way.

Let the life living in the process.


– Reen

1.00 am, 24 June 2017

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: