Kesalahan terbesar kalian adalah jatuh cinta

Seorang yang tak hanya bergelar sahabat, melainkan saudara sepemikir sepaham tak sedarah namun ikatan kuat membelit mereka tanpa perlu dipertanyakan. Tak ada kata yang tak terucap diantara mereka. Berlawan jenis bukanlah jadi penghalang.

Pun jarak bukanlah ukuran, dari jauh sang sahabat menghampiri, mengamati yang sedang terduduk berbaring — onggokan mayat.

Sang sahabat dengan alis beradu, matanya terfokus, hati-hati lengannya memeluk dengan hangat, takut semakin menghancurkan yang sudah rapuh karna larut oleh penderitaan. 

Sang sahabat menatap nanar dengan kengerian disorot matanya, pedih — khawatir. Lama terdiam, hanya berbicara melalui kontak mata.

Sang sahabat akhirnya bersuara, “Aku harus apa untuk mu? Bilang, aku harus bagaimana untuk bantu diri mu? Aku sudah begitu kesakitan, tanpa harus merasakannya langsung. Aku sudah begitu tersiksa, hanya dengan melihat mu sengsara. Sudah cukup! Kamu sudah cukup, dan aku sudah cukup mendengar walau tanpa kata. Aku menggila, duduk diam dan tak bisa berkutik tuk menolong mu. Aku disini, aku berada disini untuk mu. Bicaralah, mintalah apapun kepada ku… Apapun! Mintalah!”, kalimat itu licin meluncur dari mulutnya, halus, tegas namun tulus.

Hanya berupa isakan dan tangis, respon untuk sang sahabat — bodoh.

Sebuah kesalahan terbesar dan haram untuk dicipta diantara kalian. Kalian itu jatuh cinta, satu sama lain. Kamu dan dia, bukan salah satu, keduanya. Itulah yang membuat segala dosa menjadi ada. Saling mengingkari, jadinya saling menyakiti, pun terulang kembali, datang dan pergi berulang kali — terpola. Terimalah berlapang dada, kemudian sudahilah. Teruslah berkawan dengan kesabaran. Kamu akan hidup, harus!” Sang sahabat menambahkan, tetap menjaga keutuhan jiwa yang masih sedikit tersisa, merinding didekapannya.

“Aku……….” — tak lagi mampu mendeskripsikan, tak lagi ada suara untuk berkata-kata, yang ada hanya hampa — kalah, pasrah.
– Reen

Perkara bangkit dan tak lagi lari.

Hanya arah haluan yang dicari.

Agar hidup kembali.

Menjadi diri sendiri.

*Hingga suatu saat nanti, mati lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s