Duel antara komedi dan melankoli.

Drama awet dengan sulut api.

Tangisnya pecah karena cedera.

Tawa merekah karena gila.

Ketika hiburan jadi kuburan.

Pojok suram bermuram durja.

Tarikan udara berkobar diparu,

tercekit abu kelabu.

Sambil terduduk dihamparan duri.

Lutut erat dikenyalnya dada.

Dilingkari dengan jeruji tajam.

Melindungi yang bernyawa.

Kilatan mata padam nan menyilaukan.

Nanar berkelana ke negeri iba.

Tertunduk diantara gua yang membuat dosa.

Ketika mati bukan lagi tujuan.

Nyawa lain yang jadi taruhan.

“Akhiri delusi ini, segera!”,

Ia menyamun kedalam diri.

Berharap mimpi buruk jadi doa.

Tak lama ia bangun dari lamunan.

Sadar dengan luka nganga yang membara.

Suara bergaung lantang menantang,


“Ini nyata!”.





– Reen

10.59 pm

Advertisements