Welcome to my new life

8301b6d4e89e96d9e16067e661143959

Goosh, it has been a looong time since the last time I wrote something here. Although I made promise to my self, that I will write diligently. The fact? Its about 5 months apart. LOL :p

Well, tulisan ini sebenarnya menyambung dari “Leaving for good”  yang aku tulis 3 Agust 2016 lalu. Mengenai perpindahan hidup ku beserta alasannya. Nah disini, aku akan jelaskan lebih lanjut dan apa yang ku lakukan hampir 5 bulan ini.

Pertama, Aku meninggalkan Jogja untuk berpindah ke kota dimana oleh sebagian besar orang di Indonesia, menaruh semua harapan dan impian tuk dicipta. Yup, Ibukota Indonesia, Jakarta.

Kota dimana masuk dalam list terakhir untuk ku tinggali. Bak belati bermata dua nih, sekarang disinilah aku tinggal dan mencari kehidupan. Antara komedi, ironi, dan realiti sih ya 😀

Memang bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di Jakarta, namun ini kali pertama aku benar-benar akan tinggal dan hidup disini. Hitungan Hari ke Hari, Hari ke Minggu, Minggu ke Bulan, lalu menimbulkan kesan bahwa “Jakarta tak seburuk yang ada di TV!”. Mengapa? Ya bisa kita tahu sendiri, Jakarta dengan segala berita-beritanya, dari artis hingga politisi, dari kaum papa hingga konglomerat, dari kekeringan hingga banjir, dari damai hingga rusuh, dari lancar hingga macet, dari agamis hingga teroris, dari murah hingga super mahal, dari baik hingga super jahat, pokoknya dengan segala keriwehannya-lah, semua tumpah ruah di Jakarta yang super WOW ini. Nah, hal-hal itu mungkin memang benar adanya dan terjadi di setiap sudut-sudut Jakarta. Namun, untuk ku, itu tidaklah se-menakutkan atau se-mengerikan persepsi yang telah kita/media bentuk dari kota WOW ini.

Aku tinggal di daerah Jakarta Selatan, yang notabene terkenal dengan kawasan kalangan jet set dan elite. Jadi berasa hidup di cerita sinetron memang, tokoh utama yang pendatang dari kampung ke kota metropolitan, melihat rumah super super super gedong (rumah yang Genks, rumah. Bukan tower/gedung pencakar langit). Dalam hati selalu berbisik, “Ini rumah bayar pajaknya berapa ya tiap tahun?; Listrik sebulan habis berapa Juta ya?; Pasti jumlah ART lebih banyak dari penghuninya; Kerja apaan ya mereka?: dll”. Belum lagi lihat mobil lalu-lalang dan parkir rapi, yang bahkan merknya aja jarang aku denger (udah pasti gak ada di iklan tipi-tipi deh). Aku nyebutnya mobil sombong, yang cuma bisa nampung 2 orang doank. Sekalinya bisa nampung banyak, yakin deh itu mobil seharga nolnya sembilan digit, aku lewat aja amit-amit sampe nyenggol terus langsung penyok gitu kan gak lucu. Pokoknya gileee WOWnya lah. Siapa bilang Orang Indonesia punya perekonomian/pendapatan tahunan kecil, jawabannya? Noh datanglah ke Jakarta, udah kelar urusan. Gitu kok masih aja ngaku miskin, heran (talk to my self).

Kalau perkara biaya hidup mahal/tinggi dan semacamnya, itu mah memang sesuai UMR perkotanya kan? Apalagi Ibukota gitu lho, perputaran ekonominya ya ada disini. Kalau perkara macet dan udara yang super polusi, kembali lagi tuntutan Jakarta yang begitu besar dan para pendatang yang dari segala penjuru Indonesia datang tiap harinya, pun transportasi umum yang masih dalam pengembangan, blablabla. Duuh kok kayak jadi materi kuliah dikampus gini ya. The point is, kaget? Pasti,  stress? Pasti, ya namanya juga proses adaptasi.

Bersyukurnya adalah, walau aku tinggal didaerah kawasan elit, suasana sekitar rumah (aka kostan) dan kantor sangat ramah. Ramah dalam artian, masih banyak banget pepohonan, masih gampang menemukan penghijauan untuk sedikit menyegarkan mata dan paru-paru, dikelilingi oleh orang-orang baik (malah banyak orang Jawanya, Joglosemar juga banyak banget), ya dari tetangga, orang-orang kantor, penjaga toko/mini market, sampe tukang parkir. Tempat Ibadah juga mudah dijumpai, yang hanya membutuhkan modal kaki. Udah deh, gak usah ngomongin Mall. Tinggal merem juga udah nyampe Mall, secara Jakarta salah satu kota yang punya Mall terbanyak di dunia (Googling aja untuk validasi).

So Jakarta, for me so far so good.

Kedua, seperti yang ku jelaskan di tulisan “Leaving for good” dimana kesempatan datang pada saat yang sangat tepat di hidupku. Aku bekerja ditempat dimana anak muda Indonesia berkumpul dan mempunyai komitmen yang sama untuk selalu belajar seluas-luasnya dan berbagi sebanyak-banyaknya, yup people known as Young On Top – YOT Inspirasi Nusantara. YOT adalah perusahaan yang bergerak dibidang Community and Technology Company, dengan visi “To create the stronger next generations of Indonesia” dan “learn and share” sebagai mottonya. Lahir dari buku yang di tulis Billy Boen dengan judul yang sama, Young On Top yang mengulas nilai-nilai sukses di usia muda, “Jika bisa sukses di usia muda, kenapa harus nunggu tua?”. Jika berbicara technologi, YOT sangat digital, sangat Millenials lah. Jika berbicara community, komunitas YOT sudah tersebar di 21 kota di seluruh Indonesia, termasuk kota yang amat ku Cinta, Yogyakarta. (More info please visit youngontop.com)

Nah, notice the dot right? Yup, aku lahir dari YOT Kota Yogyakarta. Sekitar tahun 2012/2013 gitu aku bergabung disini, persisnya aku lupa (bisa sih di track, cuman agak malas aja tracking LOL). Pada waktu itu YOT Jogja masih dalam tahap belajar merangkak, jika di ibaratkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Kalau ngomongin YOT Jogja sendiri sih, mungkin bisa sehalaman sendiri kali ya. Karena join dan developing YOT Jogja, jadi salah satu moment dan histori hidup yang cukup berkesan dan punya tempat tersendiri, dari sedih sampai seneng, ceritanya pun pasti panjang, so I will make it simple and fast.

Seperti icon YOT yaitu Pesawat Kertas, filosofinya adalah pesawat identik dengan terbang (naik ke atas) dan membuat pesawat dibutuhkan waktu yang sangat lama, dari konsep, usaha, perhitungan, biaya, percobaan, gagal, hingga akhirnya sukses untuk terbang dilangit luas, dan bermanfaat untuk banyak orang. Sedangkan pesawat terbang YOT terbuat dari kertas, yang mempunyai arti semua orang bisa membuat pesawat dengan sangat mudah, hanya bermodal kertas (itu pun tak harus kertas baru) dan semua orang dapat menerbangkannya terbang tinggi ke angkasa. Mencapai kesuksesan sebenarnya semudah membuat pesawat dari kertas, yang menjadi pertanyaan adalah bagimana proses kita menciptakan kertas, mendapatkan kertas, dan melipat kertas tersebut, sehingga bisa diterbangkan. So, gak akan pernah ada ceritanya, naik ke puncak tanpa dibarengi dengan suatu usaha, berproses! Itulah yang terjadi pada diriku, di YOT Jogja aku membuat pesawat ku sendiri dan menerbangkannya sendiri hingga ke puncak. Ternyata, jejak pesawat yang ku terbangkan terpantau dan terlihat di radar YOT Pusat di Jakarta. Disitulah gayung bersambut, woilaah disinilah aku sekarang.

Ceritanya gak sesingkat itu juga sih, prosesnya untuk dilamar YOT Pusat (Tsaah dilamar?! Dilamar kamu kapan? Halah!)

Sebaiknya sih, cerita itu akan disambung di next post aja kali ya (finger cross ahaha :p)

So kesimpulannya, aku sekarang bekerja di Young On Top dengan orang-orang hebat didalamnya, yang berada di Jakarta Selatan, dan yang terpenting adalah Im Happy Here :). Gimana kerja di YOT? Kerjaannya ngapain aja? Posisi sebagai apa? Bla bla blaa, Team hore :p

Well, to be continued yaa. Kapan? Entah lah, kalau mood ngetik. ROTFL 😀

Last but not least, I quote a quotes from Walt Disney:

“We keep moving forward, opening new doors, and doing new things, because we’re curious and curiosity keeps leading us down new paths.”

Thank you

– Reen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s