Indonesia merupakan negara yang kental akan unsur kebudayaan dan adat ketimuran yang dikenal sangat ramah dan santun. Berbeda dengan dunia Barat yang merupakan negara liberal dan open minded serta dikenal dengan budaya yang terbuka. Dari gambaran umum tersebut, terlihat jelas perbedaan cara pandang antara Barat dan Timur. Orang barat yang dengan mudah menerima keterbukaan dan modernitas, sedangkan dunia Timur sulit untuk menerima hal-hal “keterbukaan” seperti orang Barat pikir. Hal ini-lah yang membuat Sex Education dianggap tabu oleh orang budaya Timur termasuk Indonesia. Mengapa tabu?

Menyebut kata seks di hadapan orang lain saja sudah dianggap tidak sopan dan condong ke hal yang negatif, apalagi menyebutnya dalam ranah umum, baik itu anak-anak maupun dewasa. Hal itu salah satu mengapa Sex Education di Indonesia masih dianggap tabu dan sangat sulit untuk memberikan pengertian akan manfaat dan pentingnya mengenal Sex Education sejak dini.

Menurut opini Achmad Haidir dalam artikel “Ambiguitas Pendidikan Seks Di Indonesia”, pembicaraan tentang seks di budaya masyarakat Indonesia dianggap tabu karena pembicaraan seks dimata masyakarat kita selalu diartikan dalam arti yang sempit, hanya seputar kejadian seksual yang mengarah kepada persetubuhan atau reproduksi saja. Selain itu, ekspresi seksual dalam bentuk nyata seperti seni (film, fotografi, tarian, dsb) dimaknai negatif oleh masyarakat. Coba saja kita tanya ke orang tua atau siapapun tentang hal-hal yang berbau seks, cenderung menghindar atau menjadi bahan bercandaan. Ketika kita akan menyoroti dan ingin membahasnya secara science, agak susah.

Namun, sulit bukan berarti tidak mungkin sama sekali. Sex Education sangat penting dan sudah seharusnya menjadi hal wajib yang ditanamkan sejak dini. Mengenyampingkan dengan budaya ketimuran, Sex Education sarat akan manfaat diantaranya memberikan pengertian dengan benar tentang seksualitas agar tidak terjadi kesalahpahaman arti, pentingnya mengenal seksualitas di kehidupan bersosial, mengenai penyakit seksual seperti HIV-AIDS, kehamilan dan aborsi serta banyak lagi. Jika hal ini disosialisasikan sejak dini, maka pengetahuan orang Indonesia terutama anak-anak dan remaja akan bertambah luas dan dapat meminimalisir dampak dari seks yang tidak sehat.

Menurut saya, sasaran yang tepat untuk pemberian materi tentang Sex Education pada tingkat SMP. Melihat dampak dari globalisasi yang memudahkan segala sesuatu untuk diakses dengan mudah, apalagi dengan media internet. Mengapa SMP? Beranjaknya dari masa yang masih dianggap kanak-kanak (SD) ke tingkat lebih dewasa ini merupakan hal yang sangat dinantikan anak-anak, terutama tuntutan dari lingkungan sosialnya dari perubahan tersebut. Disini predikat remaja pertama disematkan karena perubahan bentuk tubuh dan pemikiran “ingin tahu segalanya” mulai muncul. Peran sekolah sangat membantu untuk menjawab segala pertanyaan dibenak mereka mengenai perubahan emosi dan fisik tersebut, maka dari itu Sex education sangat penting disosialisasikan pada masa sekolah menengah pertama.

Menilik budaya ketimuran orang Indonesia, cara penyampaiannya harus sangat hati-hati dan jelas jangan sampai terjadi kesalahpahaman makna dan informasi yang diberikan. Selain itu membuat suasana menjadi tidak canggung dan memalukan juga sangat penting, mengingat hal-hal yang berbau Seks masih sangat tabu dan pribadi. Contohnya dengan memperlihatkan gambar atau video mengenai dampak dari seks bebas, baik itu dampak bagi pribadi, keluarga dan sosial.

Penulis:

Rinda Hadiana

 

Nb:

Keperluan untuk kompetisi essay

Advertisements