Search

Rinda Reen Hadiana

Write whatever I want to, say whatever feels right, and needs to be said

Has my emails been hacked?

You gave me an extreme trauma. Is it curse?

You dont know how much you hurt me, in every piece of me.

Even you know it, you dont seems to care. And I know, you do.

“Why” is the only one question. Thought, its not enough, never ever be.

It just me, the one who suffer more. Its like, no hope, no future, no more life.

Thanks to you, should I?

I never ever feel like to hold back anymore. Because my soul is taken away.

I dont know what the next will become…

Whatever will be, will be.

Yup, vulnerable.

So pathetic.


– Its not Reen

1.05 am

Ah yang benar saja…

Memang tak dapat terlihat oleh mata…

Terikat lebih kuat dari yang berkuasa…

Hanya aliran dalam nadi yang berbicara…

Jangan harap ada ungkapan fakta…

Takkan lagi mengotorinya dengan dosa…

Hanya akan ada doa…

Tenang, ini hanya perkara rasa…

Kan ku bawa sampai ku tak lagi ada…

Apa?

Kenapa?

Mengapa?

Bagaimana?

Tanyalah hingga berbusa…

Hasilnya akan tetap sama…

Diam hingga menutup mata…
– Reen

11 pm

Why people afraid being alone?

I quit social media

I disappear.

Does it still need more explanation??
.

.

.

.

Will do, if Im in the mood to write – way more serious, someday. 

– Reen

By the end we started

Why, huh?

Why do we have to start in the first place, even though we both know it won’t be good? 

Feeling needed and wanted. Knowing the presence and absence. In the meantime, we keep hurting and hating for each other.

Why do we have to?

Thus, what it should be called?

Is it – we’re in the state of suffering right now, handicapped? Is it not?

Although we never said it, we both already knew, the unspoken words.

Never-ending way, something which is neverends and seems as if it will never ever end.
– Reen

11.25 pm

Pergolakan Batin

Ternyata susunan hati masih tersisa, walau tak ada lagi rasa.

Dengan ragu mengakuinya, walau terkejut dibuatnya.

Tusukan tajam masih mendera, disudut diantara remukan yang membara.

Pergolakan dan penolakan takdir, rasanya masih sama, getir.

Tak sesakit di lampau, hanya soal kenyamanan yang jadi kacau balau.

Tawa pedih muncul diakhir, dan lagi-lagi kembali tersingkir.
– Reen

11. 36 pm

Tersayat

“Kau dilukai?” – Ia bertanya.

Melayangkan tuduhan berupa tanya, cemas.

“Teramat sangat!” – Jawab ku.

Menuangkan kebenaran berupa kepedihan, lemas.

– Reen

01.00 am

Anu ku sayu

Segala warna berganti abu-abu.

Pertanda badai dilangit biru.

Air menggenang dipelupuk pilu.

Bagai riak bening nan kelabu.


Tetap menjaga banyak jantung tuk berpacu.

Agar detaknya berirama tuk bersatu.

Bukan karena malu ataupun ragu.

Hanya jadi penyelamat yang belagu.


Nyanyian bisu bertalu-talu.

Rentetan tanya mengganggu.

Tahu takkan cepat berlalu.

Bibir kelu tak lagi mampu.

Jawaban dikira melucu.


Tak gentar bujuk dan rayu.

Kukuh melembutkan muka-muka yang layu.

Terpatri erat dijiwa yang haru.

Tak ada sesal dan tangis tersedu.

Begitu juga rindu.


Walau ikatan tak kasat mata membelenggu.

Situ bukanlah penentu.

Biarlah hanya aku yang tahu.

Tuk mulai hidup yang baru.


– Reen

3.17 am
*Karena satu anu berjuta makna.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: