Search

Rinda Reen Hadiana

Write whatever I want to, say whatever feels right, and needs to be said

It’s the weekend!! *scream

Today was — kind of a happy day for me, because I kicked my ass out from bed. Hoho

Friend of mine gave me an event invitations, — which for free entry. I just knew that the ticket price eemmh around $120 – $150 (1.5jt – 2jt Rupiahs) and I was like “Woow!! Im the lucky one. Thanks to God, and of course thanks to my Pals, blessed her”.

So the event it self was about Digital and stuff, with bunch of yummy foods everywhere, many products, entertainment and stuff, workshop and stuff, yaa kind of like so laah.

Well, everywhere I goes or visited some random places, in a mass crowd I usually met one or few people accidently whose I already knew before, or even met new people on purpose. Yup, in this event I met arround two person that already in my contact list — which was long time haven’t see them, and three person that I would like to save their contact for sure. Well actually, they asked for my name card. Sadly, I didn’t bring my name card 😫😧 — rather I dont have the latest name card at all, duh! *To do list as my homework when I got back.

Yaa luckily, Im not a person who stop in the half way. So, I took my phone out, and directly asked their name, number, and email, so they could do the same. Trust me, this way always work guys. So, never hold back or shy, to kindly ask our networks for their identity — especially for the 1st time. Then, maintained it well. At least, say hello via texts apps first, so that they can save our number since they still remembered us. *Please noted, public relations theory. Hoho..

The event hold in a huge venue, and in separated building, ya counted as workout laah haha…

The thing that I remembered the most was, there is a cold brew coffee product that I love recently, the best home based cold brew coffee that I ever tasted, and become my favorite for sure. Suddently, I saw their stand in the corner. Im so excited, and met the owner it self. They’re a couples, who made a home made brew — not just coffee but also other healthy stuff, the man is a doctor and Im not sure about the woman occasion tho, I just knew that their product represent as their hobbies and part-time/side job, because they sell the best product with the whole heart and just did what they like, also to shared their happiness. Im so impressed! I told them that they did a great job and I love it. Suddently, they gave me bunch of tester, and a lot of discount for the coffee. It made my day lah! Then, we changed contacts each other, and we became friends right now. Hope it going for long last friendship, I couldn’t be happier 😍.

Overall, the event was great and I had a good time with friends. But, the sad fact was, I just cant walked away with eyes closed and resist all those damn good food on the set, right? 😭 Guilty pleasure — oh my wallet’s health as well, huhuhuhu… After this, I will run for sure till my leg numb!! Ggrr… Lol

I type this thing while lay down on my bed — yup via smartphone, after took a shower. Enjoy the rest my weekend…

Hope you guys doing well too yaa… 

Happy weekend Genks 😎
– Reen

Advertisements

Mengembalikan lisan lewat tulisan. Aku kembali!

Baru saja, seorang sahabat yang jauh disana, berkirim pesan berupa tamparan agar aku tetap bersuara — sebut saja Peri. Ia mengutip dari salah satu sastrawan favoritnya, begini katanya…

Menulislah karena menulis adalah bekerja untuk keabadian — Pramoedya Ananta Toer

Hal itu mengingatkan ku akan, kenapa aku tak lagi menulis di blog yang lowong ini. Setelah beribu janji kepada diri untuk tetap menulis.

Puluhan notes kumpulan materi begitu terpatri dilayar telepon pintar, bak lukisan yang hanya bisa dipandang nanar.

Dimulai dari segala lini masa — sosial media pribadi, yang ku musnahkan. Blog ini pun, turut terbengkalai. Hmmm,,, terhitung sejak ± 4 bulan yang lalu, hingga saat ini, ketika kedua kaki masih menginjak tanah dibumi.

Ooh sebenarnya bukan benar² menghilang — walau berharap demikian, tapi aku masih hidup di blog lainnya. Dan aku menggunakan pen name, nama samaran — walau sudah cukup tak terlihat, yang aku yakin kebanyakan orang tak akan pernah tahu — bisa dibilang seperti itu.

Lalu kenapa kembali lagi ke blog ini? Terus²an menulisi layar kosong yang maya ini — mengetik lebih tepatnya.

Entahlah, hanya tergerak untuk mencipta raga walau sudah tiada sukma, untuk tetap berkata-kata — karena suara dalam diri sudah tak lagi ada.

Semoga lukisan² dilayar telepon pintar ku, akan segera tertuang dalam blog bobrok ini. Pun tak berharap ada sosok² mata yang singgah untuk melihat-lihat.

Tak hanya perkara sastra yang sok pintar, hanya saja ingin berbagi cerita yang tak dapat orang dengar — pun tak selalu benar, namun keasliannya jangan diragukan.

Karena, ini hanyalah tempat maya ku, sebagai tanda kepada orang untuk sekedar tahu, bahwa eksistensi ku masih ada — bernyawa walau hampa.

Jika sudah tidak ada, berarti kaki sudah tak lagi berpijak diatas bumi — melainkan asyik selonjoran didalamnya.

– Reen

11. 20 pm

Biasa…

Pemaknaan kata yang tak akan pernah Hawa pahami.

Ketika selamanya menjadi taruhan nyawa, yang tentulah bukan hal biasa bagi Hawa.

Mencari pembenaran dari Adam, yang selalu dipikir biasa dengan perlakuan yang sangat tak biasa darinya.

Adam tak akan pernah paham, apa yang Hawa hadapi ditiap siksanya, setiap ajalnya.

Pinta Adam untuk jadikan biasa. Sunggungkah ini akan biasa? Benarkah?

Sudah cukup berat Hawa mencari peradaban, tak patut bermimpi tuk bicara keadilan.

Segala tuntutan jadi biasa, karena hal yang seharusnya tega jadi tak biasa.

Adam dan Hawa harusnya tetap manusia, hanya Adam tidak pernah memanusiakannya.

Pikir Adam, Hawa akan terbiasa?

Ooh nyawa segeralah binasa, Hawa berdoa.
– Reen

7.03 pm

Pramuria

“Karena daku sama halnya dengan lelaki brengsek lainnya…”

Yaa,,,

Itu menjawab segala tanya.

Hanya itulah definisinya.

Sampai sebatas itu artinya.

Apa sebutannya, jika bukan Pramuria??

– Reen

3.41 am

Jalang yang hina

Hamba manusia yang tak lagi wanita.

Jalang iya…

Acap kali terdengar dan berucap, “sabar”.

Hingga hamba tak lagi paham.

Jika bukan penyabar, yakinlah, Hamba tak dapat hidup dari detik ke menit.

Hingga berapa lama?

Hanya dua, dua tahun siksanya.

Sekarang bertambah.

Berapa lama?

Kali ini sebentar, hanya selamanya, hingga akhir hayat.

“Sesal?”, tanyanya.

Saat itu juga, hamba tahu rasanya kiamat itu seperti apa.

Hamba menyambut ajal tiba.

Hamba masih tersisa wanita, tapi hina…


– Reen

11.11 pm

Ada makna pada kata

Menuangkan rasa melalui kata.

Membangun cita yang haram tuk dicipta.

Hanya dengan kata aku bersuara.

Menahan asa tuk tak bersua.

Karena semua cerita wajib binasa.
– Reen

10.50 pm

Ah yang benar saja…

Memang tak dapat terlihat oleh mata…

Terikat lebih kuat dari yang berkuasa…

Hanya aliran dalam nadi yang berbicara…

Jangan harap ada ungkapan fakta…

Takkan lagi mengotorinya dengan dosa…

Hanya akan ada doa…

Tenang, ini hanya perkara rasa…

Kan ku bawa sampai ku tak lagi ada…

Apa?

Kenapa?

Mengapa?

Bagaimana?

Tanyalah hingga berbusa…

Hasilnya akan tetap sama…

Diam hingga menutup mata…
– Reen

11 pm

I quit social media

I disappear.

Does it still need more explanation??
.

.

.

.

Will do, if Im in the mood to write – way more serious, someday. 

– Reen

Pergolakan Batin

Ternyata susunan hati masih tersisa, walau tak ada lagi rasa.

Dengan ragu mengakuinya, walau terkejut dibuatnya.

Tusukan tajam masih mendera, disudut diantara remukan yang membara.

Pergolakan dan penolakan takdir, rasanya masih sama, getir.

Tak sesakit di lampau, hanya soal kenyamanan yang jadi kacau balau.

Tawa pedih muncul diakhir, dan lagi-lagi kembali tersingkir.
– Reen

11. 36 pm

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: